Buat apa kamu memikirkan apa yang dipikirkan orang lain? Buat apa kamu mencemaskan apa yang akan dinilai orang lain? Kekhawatiran, juga kecemasan yang sejatinya mungkin tidak pernah ada." Dulu, sekarang, hingga kapan pun, dia adalah kakakku. Tentang seorang kakak yang mengorbankan apa pun agar adik-adiknya bisa sekolah. Tentang rasa sabar dan penerimaan. Tentang keluarga yang penuh perjuangan.
Jika segalanya (suara kebenaran, diri, dunia) merupakan keutuhan, adakah paradigma yang memungkinkan kita memahami dan menyelaminya secara utuh, konsisten, dan tuntas? Jika yang selalu kita sadari hanyalah setitik kesadaran pada saat ini dan di sini, apa yang seharusnya kita sadari pada setiap titik tersebut? Jika kebenaran semakin langka dalam arus-deras informasi yang semakin terdistorsi, b…