Text
Sekolah cinta
buku Sekolah Cinta ini bisa dikatakan laksana oase di padang gurun yang luas dan diterpa terik. Buku ini merupakan kelanjutan dari Pemimpin Cinta yang memang merupakan bagian dari trilogi Manajemen Sekolah Cinta. Sang penulis, Edi Sutarto, merupakan sosok di balik keberhasilan Sekolah Islam Athirah yang tersebar di wilayah Sulawesi Selatan.
Kiprahnya di dunia pendidikan bisa dikatakan gelimang. Pernah menjabat sebagai kepala SMA Islam Al-Azhar Pondok Labu, Jakarta Selatan, ia juga dikenal sebagai konsultan dan motivator pendidikan. Prestasinya berlanjut saat menjadi direktur di Sekolah Islam Athirah milik keluarga besar H.M. Jusuf Kalla sejak 2011. Tak heran jika pada 2015 ia dianugerahi penghargaan Tokoh Inspiratif Bidang Penididkan Sulsel oleh Tim Ekspedisi Kapsul Waktu Presiden RI bersama Fajar Group, media terbesar di Sulsel.
Dalam buku ini, Edi mengutip pernyataan Dr M. Syafii Antonio MEc di buku Muhammad SAW The Super Leader Super Manager (2015: 3-8) bahwa krisis terbesar saat ini adalah krisis keteladanan. Akibat yang ditimbulkan dari krisis ini jauh lebih dahsyat daripada krisis energi, kesehatan, pangan, transportasi, dan air. Karena absennya pemimpin yang visioner, kompeten, dan punya integritas tinggi, maka masalah air, konservasi hutan, kesehatan, pendidikan, sistem peradilan, dan transportasi akan semakin parah (hlm. 13).
Karena itu, ia menilai bahwa kunci keberhasilan sebuah proses pendidikan di sekolah amat ditentukan oleh faktor pemimpinnya. Sudah saatnya kepala sekolah sebagai pemimpin tertinggi di sekolah melakukan perubahan. Dengan lugas, disebutkan oleh penulis bahwa kunci dari jawaban seluruh persoalan itu ada di Alquran surat Al-Alaq. Mengapa Al-Alaq? Sebab, di surat ini ada perintah paling utama dan pertama dari Allah SWT, yakni iqra’ (bacalah), sebelum perintah melakukan shalat dan bentuk ketakwaan yang lainnya. Jadi, kalau seseorang mengaku beragama Islam lalu enggan membaca, maka keislamannya patut dipertanyakan.
Tidak tersedia versi lain